Iklan Atas Artikel

Breaking

Updatean Terkini!!! Jangan lewatkan artikel Terbaru Kami setiap minggunya hanya di gymprograms.site | Jika ada yang mau request Tutorial bisa email saya langsung KLIK DI SINI ya...

Sunday, September 29, 2019

Pengertian Industri 4.0


Pengertian Industri 4.0 – Industri 4.0 adalah istilah yang digunakan untuk merujuk kepada proses pengembangan dalam rantai produksi dan manajemen produksi. Industri 4.0 juga mengacu pada revolusi industri keempat.

Revolusi industri adalah masa ketika pembuatan barang-barang bergerak dari toko-toko kecul dan rumah ke pabrik-pabrik besar. Pergeserab ini membawa perubahan budaya ketika orang pindah dari daerah pedesaan ke kota besar yang untuk bekerja. Ini juga memperkenalkan kita tentang teknologi, jenis transportasi baru dan cara hidup yang berbeda bagi banyak orang.

Perlu diketahui bahwa sejak ditemukan teknologi komunikasi, dunia mengalami perubahan sangat cepat. Perubahan ini terjadi di segala bidang pekerjaan dan kegiatan. Semua bentuk perubahan perilaku dunia ini di kenal dunia dengan istilah Revolusi Industri 4.0.

Pengertian Revolusi Industri secara lebih detail yaitu perubahan secara besar-besaran di bidan Revolusi di bidang transportasi, teknologi, pertanian dan masih banyak lagi lainnya. Revolusi Industri kali terjadi di inggris pada tahun 1750-1800 yang dikenal dengan Industrie 1.0 Dan kini, industri telah memasuki era revolusi ke 4.0. Pasti banyak yang bertanya-tanya apa perbedaan tahap-tahap revolusi industri tersebut secara umum?

Revolusi Industri Pertama (1.0)
Terjadi pertama kali di Inggris. Hal ini ditandai dengan adanya perubahan tenaga manusia dan hewan menjadi tenaga mesin. Mesin uap yang diciptakan pertama kali oleh James Watt mendorong terjadinya revolusi industri pertama.

Revolusi Industri Kedua (2.0)
Revolusi Industri 2.0 dimulai pada tahun 1880 yang ditandai dengan adanya tenaga listrik yang menggantikan kinerja fisika mesin. Selain itu, dunia otomotif mulai mengalami perkembangan yang sangat drastis, serta mulai ditemukan dan dikembangkannya sistem jaringan telepon dan telegraf.

Revolusi Industri Ketiga (3.0)
Revolusi Industri ketiga dimulai tahun 1970 sejak ditemukannya teknologi komputer. Munculnya perusahaan komputer IBM dan Apple merupakan simbol dimulainya industri 3.0. Komputer membuat segala pekerjaan dapat dilakukan secara otomatis dan mudah.

Revolusi Industri Keempat (4.0)
Kini dunia tengah memasuki industri ke-empat yang banyak mengubah perilaku sosial manusia. Revolusi Industri keempat adalah perubahan sosial yang ditandai dengan adanya sistem tanpa kabel (sinyal) yang mampu mengontrol alat apapun.
Revolusi Industri 4.0 telah membuat manusia maupun mesin saling terhubung melalui internet. Hal ini dikenal dengan istilah IoT (Internet of Thing). Perubahan sosial ini membuat perubahan yang besar pula terhadap sumber daya manusia.
Dimulainya industri keempat bisa dilihat dengan munculnya dunia baru yang disebut dengan dunia maya, atau lebih tepatnya, revolusi industri ini disepakati berawal di tahun 2000.Di era ini, dunia mengalami perubahan dengan sangat cepat dan akan terus bertambah cepat. Dunia teknologi pun disebut-sebut tiap menit mengalami perubahan dan perkembangan. Adanya jaringan tanpa kabel membuat semua orang mampu membuat koneksi tanpa batas.


Dampak Revolusi Industri (4.0) Revolusi Industri keempat ternyata sudah terlihat di depan mata dan mulai disosialisasikan oleh pemerintah indonesia.
Presiden RI saat ini, Ir. Joko Widodo mengatakan bahwa, "Anak muda harus siap menghadapi industri 4.0"Bukan tanpa alasan, ternyata banyak dampak yang muncul dengan adanya perubahan ini. Terkhususnya di bidang pekerjaan. Banyak yang menyebutkan, diera 4.0, banyak pekerjaan yang akan hilang, dan banyak pekerjaan baru yang akan muncul.Kecanggihan robot membuat banyak pekerjaan di perindustrian hilang.
Hal ini sudah saya jelaskan di artikel sebelumnya yaitu:Beberapa Pekerjaan Yang Banyak Diminati Namun Akan Terganti Oleh RobotSelain itu, adanya koneksi tanpa batas membuat seseorang kadang terlena dengan dunia maya sehingga mengabaikan dan sulit bersosialisasi di dunia nyata. Lebih sibuk dengan gadgetnya masing-masing daripada berkumpul bersama teman dan saudara. Sepertinya hal tersebut mulai dirasakan saat ini.
Revolusi Industri 4.0 bisa menjadi ancaman, namun bisa juga menjadi peluang menuju kejayaan indonesia jika kita jeli dan siap memanfaatkannya. Segala dampak yang terjadi akibat perubahan ini, Indonesia harus secepat mungkin mempersiapkan diri sehingga jika dunia telah benar-benar berubah, Indonesia telah berada dalam keadaan siap. Semua negara juga tengah menghadapi tantangan ini.

DAMPAK  REVOLUSI INDUSTRI 4,0 PADA SISTEM PENDIDIKAN
Berdasarkan hasil riset Bank Dunia (World Bank) baru-baru ini menyatakan bahwa Indonesia perlu 45 tahun (hampir setengah abad) mengejar ketertinggalan dalam bidang  pendidikan dan perlu 75 tahun untuk mengejar ketertinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan. Sementara daya saing Indonesia tahun 2017 masih ada diurutan 36 dari 137 negara. Menurut Trilling dan Fadel dalam Daryanto (2017:13), keterampilan yang harus dimiliki pada abad 21 adalah life and career skills, learning and innovation skills, dan information media and technology skills. Artinya masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikejar oleh pemerintah dan kita sebagai rakyat Indonesia dalam menjalani RI 4,0 ini.

Kehadiran revolusi industri keempat selain membawa kekhawatiran, juga membawa kabar baik karena tidak sepenuhnya berdampak negatif seperti yang dikhawatirkan sebelumnya. World Economic Forum memprediksi empat isu yang akan memengaruhi pekerjaan pada masa depan:
Pertama, kecerdasan buatan dan robot akan menciptakan lebih banyak pekerjaan, bukan pengangguran massal. Memang benar bahwa otomatisasi akan menyebabkan beberapa pekerjaan akan hilang, namun di sisi lain adalah hal ini justru membawa peluang pekerjaan baru di bidang yang lain. Para ahli ekonomi percaya bahwa yang terjadi pada masa depan bukan kurangnya lowongan pekerjaan, tapi kurangnya kemampuan yang sesuai dengan jenis pekerjaan pada masa depan.
Kedua, setiap kota akan saling berkompetisi memperebutkan sumber daya manusia dengan talenta terbaik. Persaingan untuk mendapatkan talenta terbaik tidak lagi berlangsung hanya antarperusahaan, namun akan meningkat menjadi antarkota. Seiring dengan perkembangan teknologi yang memungkinkan bekerja dari jarak jauh, masyarakat akan lebih memilih untuk tinggal di kota dengan lingkungan ramah teknologi dibandingkan dengan tinggal di tempat terdekat dengan kantor.
Ketiga, sebagian besar tenaga kerja negara maju akan menjadi pekerja bebas (freelance) sebelum 2027. Para pekerja freelance ini akan didominasi oleh generasi milenial. Di sisi lain, perusahaan-perusahaan dipercaya akan lebih memilih merekrut para pekerja freelance dibandingkan pekerja tetap untuk mengisi kekosongan talenta (talent gap) yang mereka butuhkan.

Keempat, sistem pendidikan berubah dari pendekatan parsial menjadi holistik. Pelajaran matematika, seni dan ilmu pengetahuan yang selama ini dipandang sebagai disiplin ilmu yang terpisah dinilai sudah tidak relevan dalam mengisi kebutuhan kompetensi pekerjaan pada masa depan. Sekolah-sekolah akan mulai mengadopsi kurikulum berbasis tugas (project-based curriculum) sebagai jembatan untuk meruntuhkan sekat-sekat yang selama ini menjadi penghalang generasi berpikir kreatif.

Saat ini sudah dimungkinkan untuk diadakan belajar jarak jauh dengan menggunakan media internet untuk menghubungkan antara mahasiswa dengan dosennya, melihat nilai mahasiswa secara online, mengecek keuangan, melihat jadwal kuliah, mengirimkan berkas tugas yang diberikan dosen dan sebagainya.

Jadi, era revolusi industri 4.0 juga mengubah cara pandang tentang pendidikan. Perubahan yang dilakukan tidak hanya sekadar cara mengajar, tetapi jauh yang lebih esensial, yakni perubahan cara pandang terhadap konsep pendidikan itu sendiri. Untuk bisa menghadapi semua tantangan tersebut, syarat penting yang harus dipenuhi adalah bagaimana menyiapkan kualifikasi dan kompetensi guru yang berkualitas. Pasalnya, di era revolusi industri 4.0 profesi guru makin kompetitif.
Setidaknya terdapat lima kualifikasi dan kompetensi guru yang dibutuhkan di era 4.0. Kelimanya meliputi:

1. Educational competence, kompetensi mendidik/pembelajaran berbasis internet of thing sebagai basic skill di era ini;
2. Competence for technological commercialization, punya kompetensi membawa siswa memiliki sikap entrepreneurship (kewirausahaan) dengan teknologi atas hasil karya inovasi siswa;
3. Competence in globalization, dunia tanpa sekat, tidak gagap terhadap berbagai budaya, kompetensi hybrid, yaitu global competence dan keunggulan memecahkan problem nasional;
4. Competence in future strategies, dunia mudah berubah dan berjalan cepat, sehingga punya kompetensi memprediksi dengan tepat apa yang akan terjadi di masa depan dan strateginya, dengan cara joint-lecture, joint-research, joint-resources, staff mobility dan rotasi, paham arah SDG’s, dan lain sebagainya.
5. Conselor competence, mengingat ke depan masalah anak bukan pada kesulitan memahami materi ajar, tapi lebih terkait masalah psikologis, stres akibat tekanan keadaan yang makin komplek dan berat.

PERAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM REVOLUSI INDUSTRI 4,0
Revolusi Industri (RI) 4,0 jelas berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Mau tak mau, senang tak senang, kita harus membuka diri menerima perubahan dari RI 4,0 ini. Untuk membuka diri menerima perubahan, tentu dibutuhkan persiapan-persiapan. Walaupun hasil riset Bank Dunia menyatakan bahwa kondisi negara kita sangat tertinggal, serta era Revolusi Industri 4,0 telah bergulir, hal tersebut harus membuat kita sebagai bangsa Indonesia terlecut dan optimis untuk melakukan perubahan ke arah perbaikan bagi kesejahteraan bangsa ini.

Sektor pendidikan secara langsung maupun tidak langsung akan banyak berperan dalam revolusi industri 4,0 ini. Sehingga perubahan pada sistem pendidikan tidak bisa menunggu lama, terutama pada tatanan perguruan tinggi. Perubahan dan persiapan yang dilakukan pada sektor pendidikan seperti yang dikemukakan Menristekdikti salah satunya adalah sumber daya manusia (SDM), yaitu dosen dan peneliti serta perekayasa. Hal ini tentu karena beliau membawahi jenjang pendidikan tinggi.

Persiapan SDM di jenjang pendidikan lain juga harus disiapkan juga, yaitu para guru pendidikan dasar dan menengah, bahkan para instruktur atau tutor dibidang pendiidkan luar sekolah. Perubahan ini memang bukan hal yang mudah karena dibutuhkan kesungguhan komitmen dan dukungan penuh dari pemerintah, pihak akademisi juga kontribusi masyarakat.

Dalam dunia pendidikan sendiri terdapat empat revolusi yang terjadi karena adanya masalah yang tidak teratasi dengan cara yang ada sebelumnya, tetapi dilain pihak juga menimbulkan masalah baru. Masalah – masalah itu dibatasi pada masalah utama, yaitu “belajar”. Menurut Sir Eric Ashby (1972) revolusi dibagi dibagi menjadi 4 yaitu :
· Revolusi pertama, terjadi karena orang tua atau keluarga tidak mampu lagi membelajarkan anak-anaknya sendiri sehingga menyerahkan tanggung jawab itu kepada orang lain yang secara khusus diberi tanggung jawab untuk mendidik.
· Revolusi kedua, karena guru ingin memberikan pelajaran kepada lebih banyak anak didik dengan cara yang lebih cepat sehingga kegiatan pendidikan dilembagakan dengan berbagai ketentuan yang dibakukan.
· Revolusi ketiga, ditemukannya mesin cetak yang memungkinkan tersebarnya informasi iconic dan numeric dalam bentuk buku dan media cetak lain, sehingga guru dapat membelajarkan lebih banyak lagi dan lebih cepat lagi. Buku hingga saat ini masih dianggap sebagai media utama di samping guru untuk kegiatan pendidikan.
· Revolusi keempat, berlangsung dengan perkembangan yang pesat di bidang elektronik. Dalam revolusi ini, mulai disadari bahwa tidaklah mungkin bagi guru untuk memberikan semua ajaran yang diperlukan, karena yang lebih penting adalah mengajar anak didik tentang bagaimana belajar. Belajar tersebut dapat menggunakan berbagai sumber sebagai “akibat” dari perkembangan media elektronik, seperti radio, televisi, tape, dan lain-lain, yang mampu menembus batas geografis, sosial, dan politis secara lebih intens lagi daripada media cetak. Pesan-pesan dapat lebih cepat, lebih bervariasi, serta berpotensi untuk lebih berdaya guna bagi si penerima. Pada revolusi keempat ini, pendidikan mulai difokuskan pada mengajar anak didik tentang bagaimana belajar dan ajaran selanjutnya akan diperoleh si pembelajar sepanjang usia hidupnya melalui sumber dan saluran atau media/sumber belajar.

Sebagai “dokter” dalam hal pembelajaran, teknolog pendidikan sangat berperan dalam revolusi pendidikan yang terjadi. Terutama pada revolusi pendidikan ketiga dan lebih khusus lagi pada revolusi keempat. Pada tahap keempat ini fungsi guru bukan lagi sebagai sentral dalam pembelajaran atau teacher-centered, namun berubah menjadi students-centered dimana guru menjadi fasilitator bagi penyediaan kebutuhan belajar peserta didik dalam upayanya melaksanakan “bagaimana belajar” dengan menyiapkan sumber dan media pembelajaran, yang diperuntukan bukan saja bagi peserta didik di sekitarnya melainkan juga yang jarak keberadaannya jauh secara fisik.

Penutup
Revolusi industri saat ini memasuki fase keempat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat memberikan dampak yang besar terhadap kehidupan manusia. Banyak kemudahan dan inovasi yang diperoleh dengan adanya dukungan teknologi digital. Layanan menjadi lebih cepat dan efisien serta memiliki jangkauan koneksi yang lebih luas dengan sistem online. Hidup menjadi lebih mudah dan murah.

No comments:

Post a Comment